A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

BIANG INOVASI

Whats Hot

Posted: May, 21st 2015

Beton yang Bisa Memperbaiki Dirinya Sendiri

Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk biaya perbaikan jalan di pantura Jawa? Sekitar 1,7 triliun per tahun. Sedangkan anggaran perbaikan jalan di DKI Jakarta mencapai 250 miliar per tahun. Mungkinkah anggaran fantastis tersebut dikurangi atau malah dihapus tapi kondisi jalan tetap terjaga? Mungkin!

Adalah Rhesa Avila Zainal dan Corwin Rudly yang menciptakan harapan. Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menciptakan rekayasa teknologi baru bernama “beton hidup”. Disebut hidup karena semen itu mampu memperbaiki kerusakan-kerusakannya sendiri. Bagaimana caranya?

Rhesa dan Corwin memanfaatkan mikroorganisme ke dalam campuran semen sebagai bahan baku pembuatan beton. Mikroorganisme yang cocok adalah bacillus, dan dimasukkan dalam bentuk spora sehingga tahan lama karena tidak aktif. Bakteri tersebut dipilih karena bisa mengeluarkan kotoran berupa zat kapur. Cocok dengan bahan baku semen yang juga zat kapur.

Bakteri akan aktif jika terkena air dari celah-celah retakan semen. Saat itulah bakteri bekerja dan memperbaiki struktur semen yang rusak secara mandiri. Caranya, bakteri akan mengubah kalsium laktat menjadi batu kapur yakni zat utama yang membentuk semen sehingga lubang di dalam beton pun kembali pulih.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ada takaran ideal antara jumlah semen dan mikroba bacillus, setiap satu meter kubik semen idealnya dicampur dengan 15 kg bakteri bacillus.

Untuk sebuah retakan berukuran 0,8 milimeter, dibutuhkan waktu sekitar tiga pekan untuk menutup sendiri. Ketika retakan menyebar, masing-masing bisa memperbaiki sendiri karena di sekelilingnya ada sekumpulan bakteri. Sementara itu, untuk kembali ke kekuatan beton seperti semula, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Namun proses memperbaiki sendiri tersebut hanya berlaku di retakan-retakan dalam. Proses penimbunan kapur dari bakteri tidak akan sampai ke permukaan beton. Sebab, bakteri itu akan mati jika terpapar sinar matahari secara langsung.

Jadi, dengan teknologi beton hidup ini, biaya perbaikan jalan beton tersebut bisa dikurangi secara drastis. Dananya bisa dipergunakan untuk bidang lain untuk kesejahteraan rakyat, seperti pendidikan atau kesehatan.

 

Source: Jawa Pos, Okezone