A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

BIANG INOVASI

Whats Hot

Posted: Mar, 02nd 2015

Jack Ma: Inovator harus belajar cara bersenang-senang

Jack Ma dengan Alibaba-nya mencatatkan diri sebagai tokoh terbesar dunia teknologi di China. Perusahaan e-commerce yang ia dirikan pada Maret 1999 kini bernilai sekitar USD 230 miliar (sekitar 2.895 triliun) yang mengantarkannya menjadi orang paling kaya di China. Valuasi Alibaba Group bahkan mengalahkan raksasa e-commerce yang lebih duluan Amazon dan eBay.

Dalam jagad teknologi, Alibaba kini tidak sendirian mewakili China dalam percaturan global. Nama-nama besar dari China kini mulai mendunia, sebut saja Xiaomi, Huawei, OnePlus, Oppo, hingga WeChat.

Itu artinya makin banyak inovator yang lahir dari China, namun Jack Ma mengkritik pendidikan di China kurang mendorong lahirnya inovator. Dalam sebuah konvensi di Shanghai Desember 2014 lalu, Jack Ma menyebut pendidikan di China kurang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bersenang-senang.

“(Inovasi) hanya akan terjadi secara teratur apabila kita memikirkan ulang budaya kita, pendidikan kita, rasa bersenang-senang kita, dan olahraga kita. Banyak pelukis belajar dengan bersenang-senang, banyak atlet belajar dengan bersenang-senang, banyak hasil karya (seni dan literatur) merupakan produk dari bersenang-senang. Jadi, entrepreneur kita butuh mempelajari cara bersenang-senang juga,” jelas Jack Ma.



Jack Ma menjelaskan, pada dasarnya sistem pendidikan (jiaoyu) memiliki dua aspek utama, yaitu mendidik (jiao) dan membina di dalam dan luar kelas (yu). Ia mengkritik pendidikan di China terlalu menitikberatkan pada aspek mendidik (jiao), sehingga kalah inovatif dengan Amerika dan Eropa.

“Anak-anak yang tahu cara bersenang-senang, bisa bersenang-senang, dan mereka yang ingin bersenang-senang biasanya memiliki masa depan cerah,” lanjut Jack Ma. Ia mengaku beruntung kuliah di Hangzhou University karena di sana ia mendapatkan pendidikan kultural dengan bersenang-senang.

Menurutnya, sistem pendidikan China tidak memberikan cukup waktu atau dorongan kepada para muridnya untuk iseng, bersenang-senang, dan bereksperimen. Akibatnya, banyak inovator potensial China sangat terpaku dengan buku mereka sewaktu di sekolah, sehingga mereka tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan bereksperimen dengan pembelajaran dan perkembangan di luar kelas seperti itu.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?