A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

BIANG INOVASI

Whats Hot

Posted: Dec, 02nd 2014

Plagiarisme? Inspirasi atau Adaptasi



Diambil dari kamus besar bahasa Indonesia, kata plagiat memiliki arti “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri" jiplakan.

Plagiarisme sangat mungkin terjadi di dalam industri kreatif. Jika hal ini dibiarkan bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar dari segi materiil. Konsultan Hak Kekayaan Intelektual, Ari Juliano Gema mengatakan, “sebenarnya tidak ada patokan atau indikator yang pasti untuk menyebut seseorang telah menjiplak sebuah karya atau tidak. Sebab batasan antara terinspirasi dan mencontek sangatlah tipis. Namun bukan berarti tidak bisa dibedakan.”

Sebuah tindakan plagiarisme harus ditelaah lebih lanjut, salah satunya dengan membedakan antara inspirasi dan adaptasi. Menurut Ari, orang yang terinspirasi hanya akan mengambil ide dan diwujudkan dalam bentuk yang berbeda. Sedangkan adaptasi adalah tindakan plagiat. Adaptasi biasanya akan menghasilkan karya yang mirip dengan aslinya.

Ari juga mencontohkan dengan mengambil contoh kasus dari industri fashion. "Misalnya desainer A menggunakan gambar burung sebagai motif baju miliknya. Lalu, desainer B terinspirasi juga untuk menggunakan gambar burung di bajunya. Tapi, warna, ukuran, dan jenis burung yang berbeda. Hal itu bukan plagiarisme. Sedangkan, adaptasi ya menjiplak. Misalnya desainer B tersebut menggunakan motif burung yang sama, hanya warnanya saja yang dibedakan,” jelasnya.



Plagiarisme atau pelanggaran hak cipta sangat mungkin untuk ditindak secara hukum. Para inovator bisa langsung melaporkan tindakan plagiat atas hasil karyanya meski belum pernah mendaftarkan ke Dirjen HKI. Tapi perlu diingat, sebelum melaporkan tindakan tersebut, sang inovator harus bisa membuktikan hasil karyanya terlebih dahulu dari tanggal pembuatan dan publikasi.

Tindakan hukum atas pelanggaran hak cipta biasanya erat dengan gugatan perdata di pengadilan. Tuntutan yang diminta adalah kompensasi jika terjadi kerugian materiil. Namun, jika tidak ada kerugian, pealpor juga bisa tetap mengajukan gugatan untuk memberikan efek jera kepada penjiplak untuk tidak melakukannya lagi.

Sekedar informasi, sanksi pidana untuk kasus pelanggaran hak cipta adalah pidana penjara tiga tahun dan/atau denda maksimal Rp 500 juta. Tidak main-main bukan.