A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

BIANG INOVASI

Whats Hot

Posted: Feb, 02nd 2015

Profesor-profesor muda Indonesia

Tidak seperti profesor-profesor yang banyak berkeliaran di layar infotaiment Indonesia, untuk menjadi profesor yang sesungguhnya dibutuhkan banyak pengorbanan dan juga intelegensi yang tinggi. Untuk memperoleh gelar profesor, seseorang harus punya gelar doktor (Strata III) dan sebelum ditetapkan, sang calon guru besar pun harus menyampaikan hasil karya berupa hasil riset yang harus dinilai oleh Kemendikbud. Institusi pemberi gelar profesor juga harus memiliki status akademik yang jelas.

Indonesia sebagai negara berkembang ternyata melahirkan banyak profesor-profesor baru. Meskipun prosesnya tidak mudah, nyatanya tidak hanya profesor senior saja yang dilantik, profesor-Profesor muda juga tidak mau kalah. Sebut saja Nelson Tansu, peraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum usianya 30 tahun. Nelson lahir di Medan, lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan dan meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) hanya dalam 2 tahun 9 bulan. Selanjutnya ia meraih predikat Summa Cum Laude, Master pada bidang yang sama dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Nelson juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Profesor muda Indonesia lainnya adalah Irwin Yousept yang kini bekerja di Technischen Universitat Darmstadt, Universitat in Hessen, Jerman sebagai pengajar. Pria yang akrab disapa Yousept ini mengambil jurusan Matematika di Technische Universitt Berlin. Yousept hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk merampungkan sarjana strata I dan II, serta 2,5 tahun untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Phd). Yousept memilih Jerman karena memang negara ini punya teknologi yang lebih baik daripada Indonesia.

Meskipun masih mencintai Indonesia, tapi kedua profesor muda ini belum berencana pulang ke tanah air dalam waktu dekat. Keduanya masih ingin mendalami ilmu pengetahuan di negara tempat tinggalnya sekarang. Semoga kelak Indonesia bisa menjadi rumah yang nyaman bagi para profesor muda Indonesia.