A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

BIANG INOVASI

Whats Hot

Posted: Dec, 05th 2014

Seberapa Hijaukah Green Architecture?



Sejak beberapa tahun yang lalu, istilah-istilah dengan embel-embel “green” menjadi tren dan banyak bersliweran di sekitar kita. Sebut saja green car, green market, green lifestyle hingga green city. Dunia rancang bangun pun tidak mau kalah dengan konsep green architecture atau arsitektur hijau-nya. Bagaimana dan seberapa hijaukah konsep green architecture ini?

Imbuhan “green” pada green architecture bukan berarti desain bangunan yang banyak dikelilingi pohon dan tumbuhan. Green architecture bisa didefinisikan sebagai pendekatan rancang bangun yang meminimalkan efek merugikan terhadap kesehatan dan lingkungan. Kuncinya adalah suistanable design, konsep desain berkelanjutan tanpa menguras sumber daya alam yang ada.

Untuk menciptakan desain green architecture, diperlukan bahan yang dapat didaur ulang atau bahan organik sehingga dapat mengurangi konsumsi energi untuk penerangan, pemanasan, dan pendinginan. Salah satu contoh produk hasil dari Arsitektur Hijau adalah panel surya. Panel surya dapat membantu mengurangi konsumsi daya listrik dengan bantuan pasokan sinar matahari. Sedangkan untuk air hujan, dapat di daur ulang sehingga dapat memenuhi kebutuhan air pada bangunan.

Konsep ini bisa juga diaplikasikan pada rumah tinggal, tapi menurut Green Building Council Indonesia (BGCI) efeknya akan lebih besar jika diterapkan pada bangunan-bangunan di kota besar. Contohnya, Jika gedung-gedung di Jakarta bisa menerapkan konsep arsitektur hijau, maka dalam jangka waktu satu tahun dapat menghemat energi hingga 15 % dan mengurangi emisi karbon hingga 315.414 ton CO2. Ini  setara dengan menanam empat juta pohon.

Meskipun begitu, beberapa ahli berpendapat bahwa konsep semacam ini belum menawarkan solusi yang tepat. Karena meskipun mengedepankan teknologi ramah lingkungan seperti panel surya, bangunan-bangunan ini masih dibuat dengan material konvensional yang tidak ramah lingkungan seperti baja, kaca, alumunium dan semen. Menurut Danny Wicaksono, co-founder JongArsitek! dan pendiri Studio Dasar Architecture, cara yang efektif untuk membuat bangunan ramah lingkungan adalah dengan membuat meminimalkan area bangunan itu sendiri. Bangunan minimalis dengan desain yang simple dan efisien dengan sendirinya akan mengurangi limbah sehingga lebih ramah lingkungan.

Nah, antara bangunan besar berteknologi panel surya atau bangunan minimalis yang efisien, mana yang  menurut Anda paling ramah lingkungan, salah satu atau malah kombinasi dari keduanya?